BOGOR — Di balik kepedulian besar seorang tokoh muda Kota Bogor, Dr. Abdul Muis, terhadap kaum yatim dan janda, tersimpan sepenggal luka masa lalu yang tak pernah benar-benar hilang. Jauh sebelum dikenal sebagai sosok yang concern mengurus nasib anak-anak yatim dan para janda di kotanya, Abdul Muis kecil adalah salah satu dari mereka: seorang anak yang harus kehilangan sosok ayah lebih cepat dari yang seharusnya.
Pengalaman itulah yang kemudian menjadi titik berangkat perjuangannya hari ini. Abdul Muis mengaku, kepergian sang ayah meninggalkan kekosongan yang membentuk cara pandangnya terhadap dunia, terutama terhadap anak-anak yang tumbuh tanpa figur ayah dan ibu-ibu yang harus banting tulang sendirian membesarkan anak-anaknya.
"Saya tahu betul bagaimana rasanya kehilangan ayah di usia yang masih membutuhkan sosok itu. Saya juga menyaksikan sendiri bagaimana ibu saya harus berjuang sendirian, menjadi ibu sekaligus kepala rumah tangga. Dari situlah saya belajar, ada banyak anak dan ibu di luar sana yang mengalami hal serupa, dan mereka butuh perhatian, bukan sekadar simpati," tutur Abdul Muis.
Lahir dari Keresahan, Dituangkan Lewat Buku
Keresahan itu tidak berhenti menjadi kenangan pribadi. Abdul Muis menuangkannya dalam sebuah karya berjudul Rumah Tanpa Ayah, buku yang lahir dari perenungan panjang tentang betapa beratnya beban yang dipikul oleh keluarga-keluarga yang kehilangan kepala rumah tangga.
Dalam buku tersebut, Abdul Muis banyak menyoroti realita yang jarang dibicarakan secara terbuka: bagaimana seorang ibu, yang semestinya berbagi peran dalam mengasuh anak, justru harus memikul dua peran sekaligus—menjadi ibu yang mendidik dengan kelembutan, sekaligus kepala keluarga yang harus mencari nafkah dan membuat keputusan besar seorang diri.
"Rumah Tanpa Ayah bukan sekadar judul buku. Itu adalah gambaran nyata dari ribuan rumah tangga yang saya temui, di mana anak-anak tumbuh besar tanpa pelukan seorang ayah, dan ibu mereka berjuang sendirian tanpa banyak yang peduli. Buku ini adalah cara saya menyuarakan keresahan itu," ujarnya.
Dari Personal ke Aksi Nyata
Kepedulian Abdul Muis terhadap yatim dan janda di Kota Bogor bukan sekadar wacana di atas kertas. Ia dikenal aktif turun langsung menemui keluarga-keluarga yang kehilangan tulang punggung, mendengarkan cerita mereka, dan berupaya menghadirkan uluran tangan bagi yang membutuhkan.
Baginya, seorang ibu yang ditinggal wafat suaminya bukan hanya kehilangan pasangan hidup, tetapi juga menanggung beban ganda yang tidak ringan: mencari nafkah, mendidik anak, sekaligus menjadi tempat berlindung bagi buah hatinya di tengah keterbatasan.
"Membesarkan anak sendirian bukan pekerjaan mudah. Ada ibu yang harus bekerja dari pagi hingga malam, lalu pulang untuk tetap menjadi ibu yang hangat bagi anak-anaknya. Itu perjuangan luar biasa yang sering luput dari perhatian kita. Yatim dan janda ini bukan sekadar angka atau daftar bantuan, mereka adalah wajah-wajah nyata dengan cerita yang layak kita dengar," kata Abdul Muis.
Menjadi Ayah bagi yang Kehilangan
Bagi Abdul Muis, kepeduliannya adalah bentuk penebusan sekaligus penghormatan terhadap perjalanan hidupnya sendiri. Dari seorang anak yang pernah merasakan pahitnya kehilangan ayah, kini ia berupaya hadir sebagai sosok yang mengulurkan tangan bagi anak-anak yatim dan para janda di Kota Bogor, agar mereka tak merasa sendirian menghadapi hidup.
"Saya tidak bisa mengembalikan sosok ayah bagi anak-anak yatim di luar sana. Tapi setidaknya, saya ingin memastikan mereka tahu bahwa masih ada yang peduli, masih ada yang mau mendengar, dan masih ada yang mau membantu meringankan beban ibu-ibu hebat yang berjuang sendirian," pungkasnya.

Komentar
Posting Komentar